Uwais Al-qarni yang terkenal di langit


                               sumber gambar : pixabay

 Aku adalah remaja umur tujuh belas tahun. Aku masih duduk di bangku SMA, aku terlahir dari keluarga sederhana, bapak seorang petani, pun dengan ibuku. Diluar jam sekolah, aktivitasku yaa apalagi kalau tidak membantu orang tua di sawah. Setiap malam aku disibukan ikut mengaji di masjid. Ya pastinya awalnya disuruh sama bapak, Kyai Muzaki yang mengajar mengaji. Oh ya lupa, aku belum menyebutkan nama. Sebenarnya kalian sudah tahu namaku dari tadi, kalian sudah membacanya dari tadi, sesuai judul cerpen ini, namaku adalah Uwais Al-qarni. Bapak bilang, dulu yang ngasih nama adalah Kyai Muzaki. Uwais Al-qarni, (tapi aku tidak tereknal di langit. Lah terus, yang terkenal itu Uwais siapa dong?. Oke-oke, jadi begini ceritanya).

Setelah aku tahu bahwa Kyai Muzaki yang memberiku nama, akupun memutuskan bertanya pada beliau. Seusai mengaji di masjid, aku bertanya kenapa aku di beri nama Uwais Al-qarni. Beliau menatapku sebentar, lalu beliau mulai bercerita.

“jadi begini nak, aku memberimu nama Uwais, aku teringat seorang pria yang hidup di zaman Nabi Muhamad. Dia memang tidak terkenal, bahkan sebagian orang mungkin memandangnya hanya sebelah mata. Namun, orang ini ternyata sangat terkenal di langit”.

“kok bisa begitu pak Kyai?. Memang punya amalan apa?”. Aku bertanya penasaran.

“dia tak punya amalan yang mujarab. Jadi begini ceritanya”

“Uwais Al-qarni, lelaki sederhana yang hampir tak dikenal orang. Sekalpun ada yang kenal, mereka tak begitu memperdulikan orang ini. Dia memang terlihat seperti orang biasa, tapi siapa sangka, di hadapan Allah dia adalah wali besar. Digandrungi oleh penduduk langit. Bahkan suatu ketika, Nabi bersabda kepada sahabat Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib. Suatu saat nanti, sampaikan salamku kepada seorang pria bernama Uwais Al-qarni dari Yaman.

            Apa yang ada di benak Umar dan Ali?. Mereka berfikir kalau Uwais ini adalah orang besar, Ulama yang terkenal. Sampai suatu saat, Nabi telah wafat, lalu Abu bakar menjadi khalifah, lalu setelah wafatnya Abu bakar, Umar pun menjadi khalifah. Hingga suatu saat ada rombongan jamaah haji dari Yaman. Khalifah Umar pun bertanya.           

            “apakah kalian dari Yaman?”. Tanya Khalifah Umar.

            “benar wahai Amirul mukminin. Kami dari Yaman”. Salah satu rombongan menjawab.

            “apah seorang pria bernama Uwais Al-qarni bersama kalian?”. Khalifah Umar bertanya. Para jamaah hanya saling tatap, mereka bingung, kenapa khalifah menanyakan Uwais?

            “iya Amirul mukminin. Dia adalah pria yang aku beri uang tiga ratus dirham untuk menjaga kambing kami saat perjalanan kami ke Makkah”. Orang itu menjawab apa adanya. Lalu orang itu memberi tahu khalifah Umar dimana Uwais berada. Ia menjaga kambing jamaah haji. Saat itu, Khalifah Umar ditemani sahabat Ali. Mereka melihat Uwais sedang menjaga kambing jamaah haji. Mereka pun mendekat, khalifah Umar pun bertanya

            “benarkah engkau Uwais Al-qarni?”.

            “benar, aku adalah Uwais”. Pemuda itu menjawab, ia berpakaian compang-camping.

            “aku adalah khalifah Umar, dan ini sahabatku, Ali bin Abi Thalib”. Kata  Umar. Uwais baru tahu kalau itu Khalifah.

            “wahai Uwais. Engkau mendapat salam dari Nabi”. Umar menambahkan, seketika Uwais menangis mendengarnya.

            “benarkah demikian wahai amirul mukminin?”. Uwais masih terisak dengan tangisnya.

            “benar wahai Uwais. Sebelum wafat, nabi menyampaikan salam untukmu”. Umar menatap Uwais yang masih berderai air mata. “Uwais. Kau belum pernah bertemu dengan Nabi. Kenapa dulu kau tak datang ke Makkah saat musim haji untuk bertemu dengan Nabi?”.

            “wahai amirul mukminin. Aku bisa datang ke Makkah dengan menawarkn diri kepada para jamaah untuk menjaga kambingnya selama perjalan. Aku menjaga kambing jamaah sepanjang perjalan ke Makkah, tapi Bagaimana aku bisa datang ke Makkah? sedangkan ibuku di rumah sudah tua dan sakit-sakitan. Jangankan pergi ke Makkah, pergi jauh sebentar saja aku tak tega, jangankan berjalan ke depan rumah, ke kamar mandi saja ibuku tak berdaya. Aku harus menjaga serta merawatnya wahai amirul mukminin”.

            “subhanallah. Wahai Uwais. Sekarang kami berdua tahu, kenapa sampai Nabi menitip salam untukmu. Kau sangat menghormati dan menjaga ibumu. Itulah yang menyebabkan kau punya derajat yang tinggi di hadapan Allah, dan kau menjadi orang yang terkenal di langit. Tapi, wahai Uwais, lalu bagaimana kondisi ibumu sekarang?”.

            “ibuku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Jadi ketika jamaah haji berangkat ke Makkah dengan membawa kambingnya. Aku bisa menawarkan diri untuk menjaga kambingnya. Namun sayang, sekarang Nabi sudah lama wafat”. Uwais pun kembali menangis.

            “Masha Allah. Itulah kisah Uwais Al-qarni”. Kyai Muzaki menutup cerita.

            “jadi, itu alasan kenapa Kyai memberi nama saya Uwais?”. Aku bertanya.

            “betul nak, itulah alasan dulu ketika ayahmu meminta saran kepadaku untuk memberi nama untukmu. Aku mengambil nama Uwais”. Kyai Muzaki tersenyum padaku.

            Sekarang aku mengerti kenapa namaku adalah Uwais Al-qarni. Nama yang cukup bagus. Akupun berharap semoga aku bisa mencontoh kebaikan dari seorang Uwais Al-qarni. Menjadi anak berbakti.

Komentar

  1. Aku pernah baca, Uwais pernah menggendong ibunya dari Yaman sampai ke Mekah untuk berhaji. Tapi intinya Uwais memang anak yang sangat berbakti sama ibunya, masyaallah.Sungguh teladan yang harus diketahui banyak orang.

    BalasHapus
  2. Kisah Uwais menjadi reminder buat kita bahwa bakti pada org tua akan menaikkan derajat kita.

    BalasHapus
  3. Masya Allah semoga bisa menjadi orang yg terkenal juga di surga seperti namanya Uwais.

    BalasHapus
  4. Dari kisah uwais ini selalu menyadarkan aku penting berbakti ke orangtua. Masyaallah ✨

    BalasHapus
  5. Jadi ingat sama temen yg saking terinspirasi sama Uwais, dia ngasih nama anaknya sama persis. tapi ko konten ini dianggap sensitif yaa?

    BalasHapus
  6. Jadi inget sama temen yang namanya uwais

    BalasHapus

Posting Komentar