“Gavin, maaf. Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini"
“Kau tak perlu minta maaf, Eva. Tak ada yang salah. Mungkin ini sudah jalan kita.”
Suasana hening.
Sore itu, di tepi pantai,
dua pemuda bertemu. Tangan keduanya berpegangan erat, saling memandang dengan tatapan yang diselimuti
rasa pilu. Matahari hampir sempurna
tenggelam di ufuk barat, cahaya kuning orange menyelimuti lautan yang dihiasi
perahu-perahu nelayan seakan menjadi
saksi atas pilu yang dirasakan kedua pasangan
yang sedang asyik
bercengkrama di bibir laut.
***
Pagi menyapa, mentari sudah naik tinggi. Jam menunjukkan pukul 07.35, masih pagi memang, namun sepagi ini jalanan sudah padat kendaraan, mulai kendaraan besar sampai roda dua berjejeran di lampu merah. Mulai truk, bus, kendaraan pribadi sampai pengendara sepeda motor, semua berjejer menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Jalanan macet, aktivitas jalanan kota dari hari ke hari, asap kendaraan mengepul di udara, penjual minuman sibuk menawarkan minumannya, sesekali menawarkan satu dua tisu. Sudah setengah jam lebih jalanan macet, satu dua pengendara menyumpal, menahan emosi, sepagi ini sudah macet tak karuan, beberapa pengendara berteriak berharap yang paling depan segera berjalan, mereka tak mau gaji dipotong karena datang telat bekerja dengan alasan macet. Ada pula satu dua mahasiswa yang mengomel di atas kendaraan roda duanya, hari ini mereka ujian akhir semester, mereka pun tak mau diberi nilai jelek oleh dosen karena datang saat ujian hampir selesai. Ada lagi pengendara yang paling belakang, mereka menyumpal, berkata kasar, meneriaki kendaraan-kendaraan di depannya, sangat penasaran apa yang terjadi sebenarnya, apa pula yang membuat macet, dan apa pula yang dilakukan kendaran paling depan, sungguh jalanan yang sibuk.
Di kantin kampus….
“Woy, ngelamun mulu.” Suara itu memecah lamunan Gavin.
“Apa sih, berisik!” Gavin menjawab tanpa menatap. “Ngelamun terus kesambet mampus kau.” Galang menaruh mie di meja, duduk di depan Gavin.
“Eh, Gavin. Tumben kau telat, untung tadi ujian mata kuliah pak Nurman, coba tadi mata kuliah pak Ali, telat sedetik aja di usir kau dari kelas.” Gavin hanya diam tak menjawab
“Kenapa telat?”
“Macet.” Gavin menjawab singkat.
“Hilih, alesan kau. Tadi aku juga macet tapi tidak telat. Bilang aja kau bangun kesiangan, iya kan? Aku tahu kenapa bisa bangun kesiangan, semalam kau abis dugem ya? Iya kan?”
“Dugem dugem kepala kau dugem.” Wajah Gavin memerah menahan emosi.
“Buset nih anak, gitu aja marah. Dikit-dikit marah, cepet tua mampus kau.” Galang menyeringai, Gavin hanya diam tak menanggapi Galang. Suasana lengang sejenak, menyisakan suara satu dua mahasiswa yang bercanda setelah makan.
“Eh Gavin, kenapa sih, cemberut terus dari tadi?” Suara Galang memecah lengang, merenggah lamunan Gavin yang dari tadi tak menatapnya.
"Bad mood aja sih, hari ini telat.”
“Dih lebay nih anak, biasa aja kali. Dah lah makan dulu aku.” Galang segera menyantap mie-nya, membiarkan Gavin cemberut, Gavin menatap mie-nya yang mungkin mie kuah itu merasa sebal karena hanya dibiarkan tak segera dimakan sampai dingin. Gavin pun segera menyusul menyantap mie kuahnya beberapa saat kemudian.
“Eh abis ini keluar yuk!”
“Ke mana sih, kan aku udah bilang aku bad mood.”
“Ini kan hari terakhir ujian, jalan-jalan yuk!” “Hadeeh Galaang Galang…. ogah ah!”
“Healah Gaviin Gavin. Timbang cemberut terus kayak gitu, ayo keluar, pakai sepedaku, bensin aku pula yang nanggung. Nanti kalau haus, aku traktir beli es daah.”
“Naaaah gitu dong dari tadi.” Gavin langsung semringah, wajah cemberutnya langsung menghilang entah ke mana.
“Huuu dasar.” Galang menyeringai, keduanya segera mengabiskan makan, lalu pergi meninggalkan suara tawa mahasiswa lain yang bercanda di kantin.
***
Waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin Gavin menghabiskan liburannya bersama Galang, healing mengelilingi kota, mendatangi tempat wisata. Namun, semua itu berlalu begitu saja. Ini sudah masuk awal semester, dosen kembali membobardir mahasiswa dengan tugas-tugas baru, belum lagi ada dosen yang amat killer memberi tugas seenak jidatnya, telat mengumpalkan tugas sepersekian detik saja mengancam nilailah, ini itulah, sungguh membuat kepala jadi penat.
Gavin sudah hampir satu jam di perpustakaan, membolak balik buku untuk diambil
intisari untuk dimasukkan ke laptop
pemberian ibu tercintanya. Gavin mengusap dahinya, sudah satu jam baru satu tugas yang terselesaikan dari sekian banyaknya tugas yang menumpuk, ia mengira
jurusan yang ia ambil itu mudah, ternyata
ya mudah-mudahan aja kuat. Ia mengambil Pendidikan Bahasa, Fakultas Keguruan.
Bapak ibunya menyuruhnya ambil ekonomi, namun Gavin tidak
tertarik.
Gavin berdiri dari
kursi, pinggangnya pegal, ia segera ke kelas
untuk mengikui jam kuliah, hari ini ia harus presentasi tugas yang baru saja ia selesaikan, ia memasukkan laptop ke dalam tas, berjalan perlahan, meninggalkan
kursi yang telah ia duduki sampai hangat. Saat Gavin berjalan
berbelok menuju pintu,
ia tak memperhatikan jalan. “BRUK”,
ia tak sengaja menabrak
seseorang sampai beberapa buku di tangan orang itu jatuh berhamburan di
lantai.
“Maaf Mbak, aku tidak lihat.”
“Oh, gapapa Mas.”
Keduanya mengambil
buku yang jatuh, si pemilik
mengambil bukunya, Gavin segera membantu.
Keduanya sempat bertatapan beberapa detik, Gavin segera berdiri,
memberikan buku kepada pemiliknya.
“Maaf Mbak
Eva, gak sengaja tadi.”
“Iya
gapapa. Eh tunggu, kok tahu namaku?” “Itu di jaz
ada namanya. Eva Puspita Sari.”
“Oh iya maaf, aku juga ga sengaja
tadi. Mas….”
“Saya Gavin Eduardo.
Panggil saja Gavin. Maaf saya
gak pakai jaz, jadi nama saya ga kelihatan.” Eva hanya mengangguk tersipu. Ia segera masuk ke perpustakaan, meninggalkan Gavin yang termangu sendirian
di depan pintu perpustakaan. Gavin
segera berlari ke kelas, mengingat ia sudah telat lima menit.
Di dalam kelas….
“Hei, ke mana aja sih kau?”
“Halah, Galaaang. Dari
perpustakaan lah.” “Dari tadi di perpus ngapain kau?”
“Abis nyuci
piring, ya ngerjain tugaslah. Kau ini satu kelompok
denganku, cuman aku yang ngerjain tugasnya. Payah kau.”
“Muehehehhe, jangan marahlah Gavin. Aku janjilah, nanti abis jam pelajaran aku traktir kau makan bakso.”
“Dih, ngerayu
mulu, ada aja cara ngerayu biar kagak ngerjain tugas. Eh tapi Galang, aku tadi
kenalan sama cewek, cantik boy. Eva
Namanya.”
“Ha? Eva…. bentar bentar, Eva
Puspita Sari?” “Eh Galang, kau tau namanya?”
“Ya tahu lah
Gavin, aku kenal dia sejak awal kuliah. Eh kau baru kenal sudah suka sama dia kah?”
“Ssst, jangan keras-keras.’’
“Hei kalian,
buruan maju presentasi, dosen sudah nungguin.” Salah satu mahasiswa
menengahi pembicaraan Gavin dan Galang. Mereka segera
mempersiapkan diri untuk presentasi, menunda pembicaraan
tentang Eva.
***
“Huah, pedes juga.”
“Gila
nih anak, kau abisin sendiri sambel sebanyak itu?” “Duh, makan gak pakai sambel rasanya kurang Galang.” “Hee, ada aja. Eh Gavin, gimana si cewek
tadi. Eva?” “Oh ya Galang,
kau kenalnya gimana?”
“Dulu aku kenalnya pas awal masuk kuliah, aku kira dia bakal satu kelas, eh ternyata dia ambil Ekonomi. Gavin, aku sering lihat dia di perpustakaan. Samperin aja kenapa?” Perasaan Gavin langsung berbinar, hatinya berbunga-bunga.
Keesokan harinya,
Gavin segera ke kampus. Ia segera menuju
perpustakaan. Dengan dalih mengerjakan tugas, ia bisa berlama-lama di perpustakaan, berharap bisa bertemu
wanita idamannya seperti
hari kemarin. Kebetulan hari ini Gavin hanya
ada satu mata kuliah, dia memutuskan ke perpustakaan sendirian, tanpa mengajak siapapun,
apalagi sahabat karibnya, Galang.
Gavin sedang asyik menatap
layar laptop. Seperti
kemarin, mengutip beberapa
teori dari para ahli dari buku, menyalinnya ke laptop. Namun, pastinya hari ini tak sama dengan kemarin. Ia sedang menunggu
seseorang yang kini ia dambakan, Eva Puspita Sari, siapa lagi. Namun, waktu terus berjalan, tak terasa sudah hampir satu jam di perpustakaan, wanita yang didambakannya tak segera datang,
rasa kecewa mulai menyelimuti perasaan Gavin. Tapi ia
tak menyerah, ia masih menunggu lagi, mungkin agak siangan
dikit, ia masih sabar menunggu
wanita idamannya itu.
Waktu terus berjalan, tak terasa hampir dua jam Gavin di perpustakaan. Setelah jam kuliah ia memang sengaja gak langsung pulang, namun sampai tugasnya selesai ia tak menemui orang yang ia cari. Segera menggendong tas berisi laptopnya, berjalan keluar dengan perasaan kecewa. Ia berjalan menuju parkiran.
“Loh, Gavin?”
Gavin menoleh.
Suara itu terdengar dari samping saat Gavin mau turun dari lantai dua.
“Loh, Eva?”
“Kamu dari mana?”
Suara lemah lembut itu terdengar nyaring hampir tidak terdengar, membuat perasaan Gavin terenyuh.
“Ini dari perpus,
kamu?”
“Tadinya aku mau ke
perpus juga, tapi ga tahu tiba-tiba males. Ya udah mau pulang.” Keduanya
sempat berbincang agak lama, hampir 15 menit mereka berbincang. Mereka akhirnya saling lempar nomor hp agar lebih mudah berkomunikasi. Mereka turun dari tangga, dan terpisah di persimpangan
jalan, Gavin menuju parkiran Eva
berbelok ke kanan entah ke
mana.
“Ehm yang barusan ketemu ama gebetan.” Galang menyapa sahabatnya. Gavin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Setelah itu, mereka pun segera pulang. Ini memang bukan pertama kali Gavin dekat dengan perempuan, bukan pula pertama kali ia berpacaran. Tetapi, kali ini berbeda. Gavin sudah mendekati kuliah di penghujung tanduk, alias semester akhir, begitupun dengan Eva. Gavin pasti ingin hubungannya sampai ke pelaminan.
Gavin dan Eva pun
sering komunikasi semenjak mereka saling lempar nomor hp, dan selang beberapa hari, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, status
mereka pun lebih dari sekedar teman, singkatnya mereka
jadian.
***
Waktu berjalan begitu cepat, seakan baru kemarin masuk kuliah, dan rasanya baru semester empat kemarin Gavin jadian dengan Eva. Tak terasa sekarang kuliah sudah di ujung tanduk alias semester delapan. Artinya mereka sudah dua tahun berpacaran, dan kini mereka sedang fokus menghadapi tugas terakhir dalam kuliah, skripsi. Pusing mencari judul dan referensi, kini Gavin lebih sering terlihat di perpustakaan, biasanya di perpus kalau hanya ada tugas, itu pun kadang masih copy paste dari internet. Kini Gavin lebih sering di perpustakaan dengan perasaan terpaksa, selain mengerjakan skripsi pastinya ia juga bisa berduaan dengan kekasihnya yang sangat kutu buku, siapa lagi kalau bukan Eva.
“Gimana judul kamu
Eva, di acc sama dosen?” Gavin bertanya,
memecah lengang setelah keduanya fokus membolak balik buku di perpus.
“Ya sudahlah, kamu sendiri
gimana?”
“Syukur sudah,
beberapa hari lalu di acc. Baru hari ini ngerjain. Kamu ambil judul apa?”
“INTEGRASI PASAR UANG
NEGARA
ASEAN
DENGAN CHINA, kalau kamu Gavin?”
“Widih, gila. Keren juga. Kalau aku, ‘MAJAS PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN PADA NOVEL SERANGKAI
KARYA VALERIE PATKAR:
KAJIAN STILISTIKA PRAGMATIK.”
“Lah, kamu ambil
sastra malah. Kenapa gak meneliti di kelas saja? Kamu kan calon guru.”
“Biarin, biar
prodi aku menjurus ke guru. Namun, aku lebih suka ke sastra.
Heeh, skripsi gini-gini
amat ya, cari referensi susah, kemarin nyari dosen, tapi dosen ada aja acaranya
sampai baru beberapa
hari lalu bisa ketemu. Seandainya program skripsi dihapuskan.”
“Dih, Gaviin
Gavin. Ngeluh aja kamu. Dah sana kerjain skripsi kamu.”
Eva menjawab dengan ketus.
Hari demi hari telah dijalani, hari berganti minggu, pun minggu ikut berganti menjadi bulan. Gavin semakin matang bersiap menghadapi kelulusan, Gavin mendapat tawaran mengajar di SMP, ia menyanggupi dan akan bersiap mengajar setelah lulus, Gavin menyiapkan diri, tak hanya bersiap mengajar, Gavin juga semakin serius menjalin hubungannya dengan Eva, tak mau lama berpacaran, ia berniat melamar kekasihnya, Eva Puspita Sari. Waktu terus berjalan dengan cepat, mengiringi masa kuliah Gavin yang sudah hampir selesai.
***
“Gimana wisuda kamu kemarin?”
“Lancar Pak, lumayan nilaiku
cukup baik.”
“Oh ya, kamu yakin mau menikah dengan pacar kamu?Yang sering kamu ceritakan ke bapak.”
“Iya Pak, mau
gimana lagi.” Gavin menjawab pertanyaan bapak dengan yakin.
“Memang pacar kamu anak mana sih?” Ibu Gavin menimbrung.
“Dia anak luar
kota Bu, dia di sini ikut pamannya. Dia sekarang sudah pulang ke kota, menunggu aku ke sana Bu.”
“Waktu masih di sini, kamu gak pernah cerita ke bapak, ke ibu. Kok baru bilang akhir-akhir ini, pacar kamu juga gak pernah kamu ajak main ke rumah.”
“Ya maaf Pak, soalnya dia gak
pernah mau diajak keluar,
apalagi sama laki-laki, meski
sama pacar sendiri.”
“Terus kamu sudah tahu alamat dia di kota?”
“Sudah Bu, dulu waktu libur kuliah aku sempat ke sana.” Gavin menyiapkan diri untuk melamar Eva, dan pastinya Eva juga sudah bercerita tentang kekasihnya pada orang tuanya. Satu bulan kemudian, Gavin dan keluarganya berangkat ke kota, Gavin akan mengakhiri masa pacarannya.
***
“Assalamu’alaikum.” Gavin mengucap salam. Belum ada jawaban.
“Wa’alaikumussalam.” Suara itu terdengar
setelah beberapa saat kemudian, itu Eva. Dia mempersilakan Gavin sekeluarga masuk. Eva sempat berbincang sebentar
dengan orang tua Gavin,
beberapa saat kemudian, orang tua Eva keluar.
Namun, saat orang tua Eva melihat tamunya, orang tua Eva dan orang tua Gavin saling menatap.
“Loh, Pak Handoko, Bu Arin?” Ayah Eva menyapa.
“Ini Pak Tio, sama Bu Rahma?” Ibu Gavin menyapa balik. Ternyata kedua orang tua Gavin dan Eva sudah saling kenal. Namun, bukannya senang, Gavin dan Eva saling menatap, perasaan mereka tiba-tiba diselimuti rasa tak nyaman. “Pak Handoko sama Bu Arin gimana kabarnya?”
“Syukur saya dan istri baik, Pak Tio dan Bu Rahma gimana?”
“Saya dan istri juga baik Pak.” Ayah Eva menyambut tamunya dengan baik. Setelah lama berrbasa-basi, ayah Eva bertanya apa gerangan yang membuat mereka mampir. Bapak Gavin menceritakan apa tujuan mereka, tapi bapak menceritakan dengan ragu dan bahasa yang sedikit terbata-bata, seakan ada sesuatu yang mengganjal. Pun dengan ibu Gavin juga merasakan hal yang sama. Setelah tahu tujuannya, orang tua Eva dan Gavin terdiam beberapa saat, menatap putra putri tercintanya.
“Gavin, kamu benar dengan Eva?” Bapak memecah lengang,
menatap putranya. Gavin hanya diam.
“Gavin, sebelumnya
maaf ya Nak, sepertinya kamu tak bisa melanjutkan hubungan kalian.” Ibu Gavin menimbrung.
“Betul yang
dikatakan ibu kamu Gavin. Kalian tidak bisa
melanjutkan hubungan ke pelaminan.” Ibu Eva menyambung.
“Tapi kenapa Bu?” Eva memberanikan diri untuk bertanya.
“Maaf Eva, ibu
tidak tahu kalau kekasihmu adalah putra pak
Handoko. Cerita ini bermula 24 tahun yang lalu, ayah sama ibu kenal dekat dengan keluarga
pak Handoko.” Ibu Eva menceritakan masa lalu.
“Waktu itu Nak, pak Handoko sama ibu Rahma juga tinggal di dekat sini, sebelum pindah ke desa. Pak Handoko dan bu Rahma dulu satu kantor dengan ayahmu Eva, waktu itu, kamu sama nak Gavin kurang lebih masih umur 9 bulan. Pak Handoko dan bu Rahma juga ayah kamu ada rapat mendadak dan harus lembur di kantor, nak Gavin akhirnya dititipkan ke sini. Dan waktu malam, pak Handoko, bu Rahma dan Ayah kamu belum pulang Eva. Nak Gavin menangis tak bisa tidur malam itu. Ibu tak bisa memberi susu kaleng, susunya habis dan di luar hujan deras. Terpaksa ibu harus menyusui nak Gavin. Jadi, maaf ya Eva, Gavin. Kalian masih saudara sepersusuan.” Gavin dan Eva terdiam, menundukkan kepala, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Jika memang tak berjodoh, apalah arti hubungan yang sudah terjalin selama ini, apalah arti saling menjaga perasaan selama ini. Tapi mau bagaimana lagi, kisah cinta mereka harus bertepuk sebelah tangan.
***
Beberapa bulan
kemudian, setelah kisah mereka bertepuk sebelah tangan.
Eva menuju ke rumah pamannya,
menginap beberapa hari, dia mau ambil ijazah di kampus,
begitu pun dengan Gavin. Sore itu, mereka pun
memutuskan bertemu di pantai. Mengucapkan salam perpisahan, Eva menundukkan kepala, mengusap butiran air mata yang
berjatuhan membasahi kulit pipinya.
“Gavin, maaf. Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini.”
“Kau tak perlu minta maaf, Eva. Tak ada yang salah. Mungkin ini sudah jalan kita.”
Keduanya pun saling menatap, mengucapkan salam perpisahan. Matahari sempurna tenggelam di ufuk barat, senja telah berakhir. Seakan ikut mengakhiri kisah Gavin dan Eva.

Komentar
Posting Komentar