Kardus santri baru

                                                             Kardus santri baru



            kyai Zainudin, beliau seorang Kyai yang sering mengajar anak-anak muda lingkungan masjid mengaji. Namun sayang, beliau belum punya pesantren. meski demikian, beliau sangat giat mengajar mengaji. Jam menunjukan pukul 23.00. Malam itu Kyai Zainudin ikut tadarus di masjid sampai larut malam. Biasanya beliau tak pernah selarut itu. Tapi malam ini beliau mendampingi tiga santrinya, Harir, Zainal dan Muklis di masjid. Sebagian orang sudah pulang lebih awal sejak satu jam yang lalu. Seusai tadarus, Kyai Zainudin duduk di serambi masjid bersama tiga santrinya.

“Pak Kyai, dulu saya sebenarnya juga pengen ke pesantren. Namun, saya harus merawat orang tua saya di rumah. Bapak sama ibu sering sakit-sakitan. Terlebih saya anak tunggal”. Muklis memulai obrolan.

“Oh begitu. Ya tak mengapa Muklis. Kamu di rumah juga merawat orang tua. Hitung-hitung berbakti sama orang tua”. Kyai Zainudin menanggapi dengan ramah.

“Sama Kyai. Saya dulu juga mau berangkat ke pesantren. Tapi, bapak saya sudah nggak ada. Di rumah tinggal saya dan abang saya. Dan saya harus bantuin abang saya kerja, ibu di rumah sudah tua”. Zainal menimbrung.

“Ya sudah ndak apa-apa. Alhamdulillah meski di rumah kalian masih bisa mengajikan?. Ya kalian meski di rumah terus, tapi kalian juga niatnya bantu keluarga. Emm, oh ya Harir. Perasaan dulu kamu pernah ke pesantren?”. Kyai Zainudin menoleh ke Harir.

“Iya Kyai. Tapi Cuma sebentar. Hanya beberapa tahun saja. Setelah itu pulang. Saya sudah dewasa dan pengen kerja. Ya meski pada dasarnya saya masih pengen mengaji. Maka dari itu, saya ngaji lagi ke pak Kyai”. Harir menundukan kepala.

“Tapi ya ngak apa-apa sih. Kamu enak Harir, sudah pernah ke pesantren meski nggak lama. Nih, gua sama Muklis. Pengen ke pesantren tapi nggak keturutan. Sekarang sudah kerja, kaya nggak ada waktu lagi. Ya jalan satu-satunya kita ngaji ke pak Kyai. Benar begitukan pak Kyai?”. Zainal mengahadap Kyai Zainudin. Beliau mengangguk.

“Tapi bagaimanapun juga kita harus bersyukur. Kita masih bisa mengaji. Ya nggak?”. Harir menoleh ke Muklis. Seketika Muklis mengangguk setuju dengan Harir. Bagaimanapun juga, alhamdulillah masih bisa mengaji.

“Anak saya. Si Anisa, dulu dia juga ke pesantren. Malah sejak sebelum lulus SD”. Kyai Zainudin bercerita. “ Paman saya juga seorang Kyai, punya pesantren. Sekarang di pimpin putranya. dulu anak saya ngajinya di sana. Pagi sekolah, malamnya ngaji.

“Masih SD sudah di pesantren Kyai?”. Zainal bertanya penasaran.

“Iya, Anisa sejak kecil di pesantren. Tempatnya nggak jauh, kamu tahu pesantren di dekat kota kecamatan?. Pondoknya besar, itu punya paman saya. Dulu Anisa saya taruh disana. Setiap lima hari sekali saya sambang ke sana. Saya harus menaruh Anisa disana. Anisa dulu tidak betah sekolah disini. Dia minta pindah setiap kali pulang dari sekolahnya. Bahkan terkadang dia sampai menangis ingin di pindahkan. Dia hanya bilang tidak betah. Saya juga nggak tahu, siapa yang ngarin, dia tiba-tiba ingin di pesantren. Saya dan istri ya pikir-pikir, tapi dia memaksa sampai dia menangis, bahkan dia nggak mau sekolah kalau nggak mondok. Entah siapa yang mengajarinya, memang saudara sepupu Anisa banyak yang tiga sampai empat tahun lebih tua darinya dan banyak yang ke pesantren, mungkin itu faktornya, dia iri. Akhirnya saya pindah, sekalian saya antar ke pesantren paman saya. Dia disana sampai lulus SMA. Setelah lulus, dua tahun kemudian dia pulang ke rumah, sampai sekarang”. Kyai Zainudin terdiam sejenak. Seakan mengingat sesuatu.

“Ada apa Kyai?”. Muklis bertanya. Kyai Zainudin tertawa kecil. Muklis saling tatap dengan dua rekanya.

“Berbicara tentang pesantren. Saya teringat saat masih belajar di pesantren”. Kyai Zainudin tertawa kecil.

“Memangnya ada apa Kyai?”. Muklis menatap tak mengerti.

“Kyai saya dulu adalah orang yang sangat sederhana. Bahkan beliau sering berpenampilan tidak seperti Kyai. Beliau sering menggunakan kaos oblong. Suatu hari, ada seorang santri baru. Mungkin dia itu anaknya orang kaya atau orang kota. Dia berpakaian necis, rapi sekali penampilanya. Dia datang diantar orang tuanya. Semua santri yang ada di depan asrama melihat sedikit asing dengan anak itu, soalnya jarang ada anak baru berpakaian serapi itu. Sesampainya di depan rumah Kyai, si santri itu memanggil seorang bapak berusia separuh baya di depan rumah. Dengan santainya si pemuda itu bilang ‘pak. Bawakan kardus ini masuk ya. Ini baju saya. Kardus satunya ini isinya makanan ringan buat pak Kyai. Bawakan masuk, sekalian panggilkan pak Kyai’

Spontan hal itu membuat para santri tersentak heran. Tapi pria paruh baya itu menurut. Membawakan masuk kardus itu. Setelah itu, pria paruh baya itu masuk ke rumah. Tak selang beberapa lama, pria paruh baya itu keluar rumah dengan pakaian jubah, persis seperti umumnya Kyai. Spontan si santri berbaju necis itu langsung ciut. Tak disangka pria paruh baya yang ia suruh tadi adalah Kyai pemilik pesantren. Seketika santri yang tadi di depan asrama ketawa cekikikan”. Kyai Zainudin tertawa geli menceritakan hal itu.


Komentar