“Shodaqallahul ‘adzim. Wallahu a’lam bisowab”
Kata mutiara yang ditunggu para santri saat mengaji. Karna itu menandakan ngaji-nya telah usai. Betapa bahagianya para santri saat mendengar kata mutiara itu, bagaimana tidak, mulai pagi sampai tembus pagi lagi, aktivitas demi aktivitas dijalani. Kitab demi kitab telah dikaji. Apalagi kalau sudah malam hari. Disaat ustadz sedang menjelaskan materi, santri yang duduk di belakang pun tak fokus mengaji, malah tidur dan terbuai oleh mimpi. Sungguh nikmat yang perlu disyukuri oleh para santri.
Pagi datang menyapa, mentari sembunyi dibalik sedikit gumpalan awan hitam yang menyelimuti langit. Semalam hujan, cukup deras, tanah pun masih becek. Hawa dingin masih terasa., membuat bulu kuduk berdiri. Gerbang pondok dibuka, aktivitas pun dimulai, setelah sarapan, para santri pun melangkah meninggalkan pondok dan pergi sekolah. Ada pula yang kerja untuk santri yang sudah tak berseragam sekolah. Sebagian mengabdi untuk pesantren, seperti memasak, bersih-bersih di rumahnya pak kyai, menjadi guru disekolah, dll.
Panggil saja Sufyan. Begitulah teman-teman seasrama memanggilnya. Dia baru lulus S1 tahun ini, dia sebenarnya juga membantu menjadi guru di sekolah SMP. Namun hari ini dia tak ada jam mengajar, kebetulan hawanya juga dingin karena hujan semalam, ditambah ia juga mager untuk keluar jauh, sekolahnya juga lumayan agak jauh dari pondok. Membuat Sufyan hanya mau keluar di dekat area pondok. Sufyan berjalan keluar, menuju warung langgananya, warung sedap 45. Warung yang sederhana, bersih, dan harganya terkesan bersahabat. Jalanan masih becek, air hujan terlihat menggenang di lubang-lubang tengah jalan. Sufyan berjalan pelan, sesekali tersenyum menyapa anak-anak SMA yang berangkat sekolah, dan Sufyan sedikit geli melihat santri SMP yang terlihat lesu, ekspresinya seolah berkata ingin tak berangkat sekolah karena malas, hawa yang dingin inilah yang membuat mereka tak semangat sekolah.
“mbah sup, pesen geprek sama kopi hitam ya”. Sufyan memesan makan. Mbah sup, begitulah anak-anak pondok memanggil. Mbah Supiyah lengkapnya, “oh ya kang Sufyan” jawab mbah Sup. Mbah Sup menyugguhkan kopi dulu, Sufyan pun perlahan menyeruput kopi hangatnya. Suasananya hening, jalanan yang biasanya ramai kendaraan lewat, hanya terlihat satu dua orang yang mau pergi ke sawah “mbah sup...” tiba-tiba terdengar suara memanggil, suara nyaring itu memecah hening, Sufyan tertegun, suara itu tak asing ditelinganya. Sufyan sontak menoleh ke belakang, Allahu akbar, mata Sufyan seketika berbinar-binar, suara itu.. itu suara Dahlia, santri putri yang di idamkan Sufyan semenjak ia menginjak semester akhir.
Dahlia santri putri yang sudah cukup lama di sini. Meski ia tak kuliah setelah lulus SMA. Namun ia sudah 9 tahun di pesantren. Dan ia sudah mengajar dipondok. Sufyan 4 tahun lebih tua darinya, dan pertemuan pertama mereka di saat acara wisuda khotmil qur’an. Kebetulan Sufyan menjadi seksi konsumsi di acara tersebut. Ia sering ke dapur putri, ia sering bertemu Dahlia. Dan setelah acara selesai, Sufyan baru tahu kalau namanya adalah Dahlia. Dan baru tahu juga kalau ia mengajar kelas 3 ula di pondok. Ia tahu dari mbak mbak yang masak di dapur. Beberapa hari setelah acara selesai, Sufyan sering bertemu Dahlia saat mau kuliah, berangkat lewat dekat rumah yai dan Dahlia kadang menyapu halaman yai. Dari situlah perasaan berbunga-bunga dari hati Sufyan mulai tumbuh.
Suasana sempat hening beberapa saat, Sufyan masih terpana menatap wanita idamanya. “mbah sup mana kang?” pertanyaan itu memecah hening. Sufyan sontak glagepan bingung dan sempat salah tingkah “eh, anu di belakang mbak” jawab Sufyan dengan gugup. Dahlia mengerutkan kening, “mbak?”. Bukanya ia lebih tua?, bisa bisanya memanggil mbak. Itulah yang terbesit dalam benak Dahlia. “lo, Dahlia, mau beli apa?” suara mbah sup menyela pertanyaan di benak Dahlia. “anu mbah sup, mau beli rujak dua, terus gepreknya satu”. Jawab dahlia. “oh ya bentar, kang ini geprek samean”. Mbah sup menaruh geprek di depan Sufyan. “sarapan mbak” Sufyan menawari. “heee, iya kang,” jawab Dahlia sambil tersenyum. Oh, hati Sufyan luluh lantah. Bagaimana tidak? Senyumnya yang manis, wajahnya yang kalem dan polos, nada bicaranya yang nyaring hampir tak terdengar, dan senyumnya yang membuat lesung di pipinya membuat hati Sufyan dag dig dug ser. “sendirian samean mbak?” Sufyan mulai salting. “iya kang, sendiri” jawabnya. Singkat banget jawabnya, batin Sufyan. Padahal ia berharap Dahlia bertanya balik. Namun Dahlia hanya diam, sambil sesekali melirik Sufyan. Entah apa maksud lirikan itu. Menganggap Sufyan aneh, atau malah tertarik?. Aah sulit dijelaskan. “ini pesanan samean”. Mbah sup mengasihkan pesanan. Dahlia mau mengambil uang disaku. Kebetulan Sufyan sudah selesai makanya, spontan bilang “mbah sup, biar saya bayar punyaan mbak Dahlia. Sekalian bayar makan dan kopi saya”. Dahlia pun menatap Sufyan sambil mengerutkan dahi “ndak usah kang, saya bawa uang kok”. Timpalnya “aah ndak papa mbak, berapa semuanya mbah sup?” mbah sup menghitung. “22 ribu kang”. Sufyan mengambil uang 25 ribu. Dan yang 3 ribu diambilkan kerupuk “ini mbak Dahlia, buat lauk krupuknya” Dahlia nampak sedikit malu-malu menerimanya.
“makasih kang, maaf ngrepotin”.
“he e. Gapapa mbak, enggak ngrepotin kok”. Jawab Sufyan dengan hati berdebar.
Dahlia berjalan pulang. Sesekali sedikit menoleh ke belakang. Dan Sufyan masih terpaku menatap Dahlia. Saat melewati belokan kecil menuju pondok putri, Dahlia sempurna menoleh ke Sufyan yang masih terpaku menatapnya. Dahlia tersenyum pelan sambil mengatakan sesuatu dari kejauhan. Mimik bibir manisnya seakan bilang “makasih ya kang”. Sufyan pun tersipu. Dahlia pun menghilang setelah melewati gang kecil menuju pondok. Sufyan pun segera kembali ke asrama. Senyum itu, ucapan terima kasih itu. Masih terngiang dikepalanya. Apakah Dahlia mau membuka hati untuk dirinya? Itulah pertanyaan yang tersirat di hati Sufyan.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar