ayah


Malam sepi, langit malam begitu cerah, nampak gemerlap bintang ditemani sinar rembulan menghias dinding langit malam. Sesekali terdengar jangkrik saling bersahutan dari semak-semak.  Suara detik jam dari ruang terdengar pelan, jarum jam menunjukan pukul 09.15. Udin perlahan mengeluarkan sepeda. Seperti biasa, malam minggu ia selalu keluar rumah (hampir tiap hari keluar, tapi lebih seringnya malam minggu). “Bang, mau kemana bang malam-malam begini?”. Tanya Asman, Asman panggilanya, adik si Udin yang kini duduk dibangku SMP. :”diem lu bocil, ikut aja urusan orang tua”. Jawab Udin dengan sinis. “Tapi bang, abang udah keseringan keluar malam. Sesekali bang tidur rumah, besok bantuin bapak disawah”. Asman menyahut, wajahnya berkaca-kaca berharap abangnya mau menuruti apa yang ia katakan.
“EH BOCAH, DIEM NAPA SIH LU, NGATUR-NGATUR ORANG TUA, GUE INI ABANG LU, GAK USAH IKUT URUSAN GUE,” Udin membentak, sontak hal itu membuat Asman langsung ciut, namun Asman memberanikan diri untuk menjawab
“Bang, abang ini selalu keluar untuk foya-foya. Pergi malam pulang malam, dirumah cuman makan, tidur, sambil meminta uang kepada bapak dengan paksa, dan abang selalu pulang dalam keadaan teler, kasihan bapak bang, bapak sudah tua dan sering sakit-sakitan.”  jawab Asman
“EH BOCAH, MENDINGAN LU SEKARANG TIDUR, BESOK BAPAK LU SAWAH” wajah Udin memerah.
“kalau siang aku selalu bantu bang, tapi kalau pagi aku sekolah bang, abang bantu dong”
“EH DENGERIN, LU NGAPAIN SEKOLAH TINGGI-TINGGI, BUAT APA? NOH LIAT BANYAK SARJANA PADA NGANGGUR, UDAH DIEM LU SEKARANG”. Udin membentak
“Udin, kau mau keluar lagi nak?” suara ringkih itu terdengar menengahi pertengkaran Udin dan Asman. Suara bapak yang begitu parau, kulitnya yang terlihat keriput dimakan usia, menandakan usianya yang tak lagi muda. Tubuh kurusnya berjalan pelan menghampiri kedua putranya yang sedang cekcok. Bapak berjalan pelan, sesekali batuk pelan.
“Dah lah pak. Bapak gak usah banyak tanya” jawab Udin dengan sinis. Udin pun langsung mengendarai sepeda, ia mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi, rasa jengkel kepada Asman seakan mengiringi perasaan Udin untuk segera sampai di BAR langgananya. “ya allah, salah apa hamba ini?. Kok tega anaku bicara seperti itu padaku”. Suara ringkih bapak terdengar pelan. “Pak, yang sabar ya pak. Doain aja bang Udin segera taubat”. Asman berusaha menenangkan bapaknya yang duduk disampingnya, tangisnya tak tertahan, butiran air matanya membasahi pipinya yang keriput dimakan usia. 


                                      ***


“bapak, bangun pak. Udah siang. Ayo pak kita sarapan, Asman barusan selesai masak” Asman memanggil bapaknya yang kamarnya tertutup. Asman berkali-kali mengetuk pintu dan memanggil bapak, namun tak ada jawaban sama sekali. “kok tumben ya bapak belum bangun sampai siang” Asman bergumam. “bapak masih gak enak badan? Ayo pak sarapan dulu terus minum obat” sekian kalinya Asman memanggil bapak, namun tetap tidak ada jawaban. Asman pun akhirnya membuka pintu kamar bapak, kebetulan tidak dikunci. “astaghfirullah, bapak. Bapak kenapa?” Asman terkejut melihat wajah bapak yang wajahnya terlihat pucat dan membiru. Bapak tak sanggup bicara. Hanya bisa merintih tak berdaya. Asman pun bergegas menelfon pamanya. Mengabarkan kondisi bapak yang kritis. Bapak memang sudah berumur dan sering sakit-sakitan. Namun baru kali ini bapak sampai terlihat kritis sakitnya. Terakhir kali periksa ke dokter, bapak terkena asma dan liver. Bapak pun tidak bisa banyak aktivitas, disawah  pun bapak hanya sekedar memeriksa padi, Asmanlah yang merawatnya, bapak hanya memantau. Dan sekarang kondisi bapak semakin kritis. Sudah lama Asman ingin membawa bapak ke rumah sakit agar mendapat perawatan lebih dengan harapan bapak segera sembuh. Namun apalah daya. Asman tak punya biaya, Asman juga masih sekolah, bapak hanya bekerja di sawah, abangnya pun hanya mabuk-mabukan, tak pernah memikirkan bapak yang sering sakit dan tak mampu bekerja di usia tuanya.
***
   “maaf ya dek, kamu gak boleh masuk. Tunggu di luar ya” suster mencegah Asman yang hendak ikut masuk ke ruangan ICU“ tapi suster bapak...” Asman menjawab dengan gugup “maaf ya dek, tunggu saja diluar. Serahkan pada dokter, doain bapak ya” suster menyela perkataan Asman. Suster segera masuk, menyempatkan tersenyum kepada Asman yang masih berdiri dengan wajah tegang berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Asman masih berdiri, melihat suster menutup pintu ruangan ICU dengan pelan. Paman dan bibi berusaha menenangkan Asman yang masih diselimuti rasa khawatir akan kondisi bapak. Paman dan bibi pun juga khawatir akan kondisi bapak yang kritis. Fikiran Asman kalang kabut, khawatir ada apa-apa dengan bapak, yang terbesit dibenaknya, kenapa bapak harus seperti ini di usianya yang sudah tidak lagi muda. Ditambah Asman juga bingung darimana ia harus mendapatkan uang untuk perawatan bapak. 


                               ***


“Aaaah, PAYAH, kalah lagi kalah lagi”. Udin berteriak, ini untuk yang ke lima kalinya kalah berjudi.
“Kamu kenapa din,? Hahaha, emang main lu aja yang payah, masak kalah lima kali berturut turut”. Jawab Sutiyo, lawan judinya.
“Bukan gitu, emang lagi apes aja nih gua” udin menyekal
“Hahaha, apes kok tiap hari, lima kali kalah beruntun lagi”sutiyo tertawa meledek
“Eh uler toket, diem napa sih lu, dari tadi omong mulu” Udin terlihat kesal melihat Sutiyo yang masih tertawa riang dengan kemenangan judinya.  Udin tak tau harus bagaimana, uangnya sudah habis, buat mabuk, main wanita, dan berjudi. Ia pun memutuskan untuk pulang, ia mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi, persis saat ia meninggalkan rumah karena jengkel kepada Asman beberapa hari yang lalu, ia benar-benar pusing. Kali ini dua kali lebih pusing malah. Mentari tepat diatas ubun-ubun. Panas begitu menyengat, Udin tak peduli. Ia ingin segera sampai dirumah. Namun, sesampainya dirumah ia tercengang, kenapa ada banyak orang?, ia masuk rumah, terlihat Asman menangis tersedu, “man, ada apa man?”, tanya Udin. “he ada apa diem bae”. Dengan sisa isak tangis Asman menjawab “bapak,.. bapak meninggal. Baru 3 bulan yang lalu ibu pergi, sekarang bapak...”Asman tak kuat meneruskan. Ia menangis dengan keras. Udin terdiam, Setelah shalat jenazah selesai. Keranda pun di angkat menuju ke pemakaman. Ditemani paman dan bibi, Udin dan Asman berjalan mengikuti rombongan jenazah. Asman tak henti-hentinya menangis. Sedangkan Udin hanya menundukan kepala, ia tak tau harus bagaimana. Ibu telah tiada, kini bapak pun menyusulnya. Paman dan bibi tak henti-henti menenangkan Asman yang hatinya masih dirundung duka. Air matanya terus keluar membasahi pipinya, berharap sang ayah kembali membuka mata. Namun, sampai sang ayah masuk ke liang lahat, tak ada tanda-tanda ayah membuka mata, Udin dan Asman hanya bisa melihat sang ayah mulai di uruk tanah. Setelah pemakaman selesai, paman dan bibi mendoakan ayah, Asman ikut mendoakan diiringi isak tangisnya. Udin terdiam, ia tak menyangka ayah pergi dengan cepat, ia merasa bersalah. teringat dulu Udin sering membentak dan meminta uang dengan paksa. Terakhir ia membentak adik dan bapak, lalu keluar menuju tempat bar. Tak disangka, hari ini bapak telah tiada, pergi meninggalkan kedua putra tercinta, untuk selamanya. Mulut Udin memang diam, namun pikiranya kacau, hatinya gelisah, nafasnya pun terasa agak sesak, Udin pun menangis dalam diam.

Komentar